Senin, 11 Maret 2013

Adakah seleksi juga dalam menuntut ilmu ???


Tarbiyah...
Satu kata yang sekitar lima tahun yang lalu tak ku mengerti artinya. Sering berjalannya waktu, banyak hal yang ku kecap manfaatnya. Darimu...
Tarbiyah...


Berawal dari salah satu ocehan senior di sekolah yang ku banggakan. Dari sanalah, aku bisa mengenal kata ini...
Dengan cerewat dan pantang menyerahnya menyuruh kami para maba untuk berkunjung ke mushollah,, akhirnya engan berat hati kamipun menurut. Duduk dengan wajah yang masam, hati yang dongkol, umpatan dalam hati, “ andai kalian bukan senior, ku tidak mau melakukannya”.
Sesosok orang yang aneh “menurutku” masuk kedalam mushollah dan duduk tepat dihadapan kami. Ku pandangi dia seluruhnya, taukah kalian kesan apa yang ku dapatkan ? KELAM...
Bagaimana tidak ? dari atas hingga bawah hanya terdapat 1 warna yaitu HITAM. Didukung jilbabnya yang panjang hampir menutupi seluruh badannya, dan wajahnya yang tertutupi membuat kesan sangat eksklusif.
“ Mau diapakan kami ? bukankah kami sekolah disini bukan untuk melalukan kegiatan seperti ini ? hmmm... membosankan”, pikirku.
Tak lama kemudian sang sosok tadi mulai membuka pembicaraan. Banyak hal yang dia katakan, kuperhatikan diantara kami ada yang menyimaknya dan ada yang hanya bermain-main tanpa memperhatikannya sedikitpun. Tapi, berdasarkan apa yang kudengar dan kusimak, ada beberapa yang dapat ku simpulkan dan aku mulai mengerti.
Kegiatan yang sedang berlangsung ini dinamakan Tarbiyah dan bermajelis...
Sosok yang sedari tadi sibuk berbicara didepan kami itu disebut Murabbiyah sedangkan kami sendiri itu katanya dipanggil mutarabbiyah...
Aku sendiri bingung,,, hati yang tadinya dongkol dan penuh umpatan, sedikit demi sedikit tergantikan dengan rasa nyaman dan penuh penasaran... apakah mungkin karena sosok tadi itu berkata dengan lemah lembut ? sehingga aku mulai simpati padanya ? entahlah yang jelas rasa nyaman dan penasaran ini membawaku pada pekan-pekan selanjutnya...
Banyak hal-hal baru yang kuketahui tentang agamaku sendiri. Padahal secara background keluarga, keluargaku temasuk religiouslah. Tapi sayang saat itu sholatku sangat berantakan dan yang paling parah menurutku, Aku Tak tahu membaca Al-Quran... Memalukan...
Tak hanya sampai disitu, sosok-sosok yang lain yang notabene secara penampilan hampir sama selalu datang setiap hari jumat untuk memberikan semacam ceramah kepada seluruh siswa di sekolah...
Tak terasa 6 bulan sejak pertama kali bertemu dengan murabbiyah kami dan seiring itu pula selalu ku ikuti kegiatan ini. Satu hal yang terasa sangat berbeda...
Seingatku saat pertama kali kami duduk bersama, lingkaran ini begitu besar sampai setengah mushollah saat itu hanya dipenuhi oleh majelis kami...
Berbeda dengan sekarang, kami hanya menempati mungkin sepedelapan bagian mushollah. Kemana mereka semua ? saat naqibah kami memanggil mereka kembali satu persatu,, begitu banyak alasan yang mereka lontarkan dengan satu tujuan mengatakan tidak untuk kembali tarbiyah... “kenapa ? kenapa mereka tidak mau ? bukankah hal ini menyenangkan ? “
Waktu terus berlalu dengan segala kesibukan kami masing-masing...
Lingkaran kami bertambah kecil yang bertahan hingga saat itu  hanyalah orang-orang yang memutuskan untuk bergabung dalam suatu amal jama’i yang sederhana, di sekolah kami rohis itu dinamakan IKRAMSY (Ikatan Remaja Mushollah Yamasi). Bahkan dengan jumlah sedikit ini, Allah kembali menguji kami dengan mengganti murabbiyah kami. Jujur saja saat itu saya sudah tidak ingin tarbiyah karena orang yang telah membuat saya jatuh cinta dengan tarbiyah telah meninggalkan kami, tapi suara dari murabbiyah kami yang memberikan pengertian, naqibah kami yang selalu sabar dan teman-temanku yang tetap memberikan semangat bak tiang-tiang yang setia.
Tak hanya sampai disitu...
Seseorang yang membuatku hasad dengan semangatnya mencari ilmu, pantang menyerah dan sabarnya selalu mengajak kami untuk tarbiyah. Naqibahku. Meninggalkan kami ditengah kepengurusan IKRAMSY dan tarbiyah, beliau memilih jalan lain untuk mengecap manisnya surga... (Semoga engkau nyaman dan jangan lupakan kami ! kami merindukanmu ukh !)...
Muharrikah kami, orang yang tanpa lelah bahkan menyeret kami hanya untuk tarbiyah..(it’s nice memories)... adalah orang pertama yang meninggalkan shaf perjuangan ini... (walaupun saya tidak tahu bagaimana engkau disana ukhty...)
Waktu terus bergulir meninggalkan banyak kenangan...
Tak lama setelah dibimbing oleh murabbiyah kami, entah mengapa tiba-tiba saja kami dibagi menjadi dua bagian. 5 diantara kami dipindahkan untuk melanjutkan tarbiyah diluar sekolah dibimbing oleh murabbiyah kami yang baru.
Shock, sedih tapi senang... kenapa senang ? ternyata murabbiyah yang akan membimbing kami nanti adalah sosok akhwat yang saya kagumi selama ini. Caranya membawa materi SIMPATI (siraman Penyejuk Hati)_kamat yang ada di SMK YAMASI, cara beliau berbicara, berinteraksi dengan kami, ketegasannya... Saya ingin seperti beliau...
Tapi, disamping itu semua tetap saja saya sedih dan selalu bertanya-tanya. Kenapa kami harus dipisah ? kenapa tidak semua saja yang ikut tarbiyah diluar ? dan semua pertanyaan itu telah dijawab oleh murabbiyah kami kepada saya pribadi, beliau dengan lemah lembut dan penuh pengertian memahamkan mengapa hal tersebut harus terjadi.
Tadinya memang sulit, tarbiyah diluar sekolah dan harus berpisah dari teman-teman yang lain. Tetapi, ilmu telah sampai padaku dan pengaplikasiannyalah yang dituntut...
Sang waktu terus berputar dan menyiapkan sejuta kejutan yang lain...
Tanpa terasa kami telah menjalaninya sekitar 1,5 tahun hingga beliau (murabbiyah kami) walimah dan menjadi satu-satunya murabbiyah yang selama ini membimbing kami yang telah walimah. Oleh karena murabbiyah kami yang walimah dengan seorang Du’at (penda’wah) sehingga beliau dan suaminya harus memperjuangkan da’wah didaerah. Hal ini yang membuat akhirnya kami harus pindah murabbiyah lagi.
Seiring dengan kami harus pindah murabbiyah lagi. Secara akademik, alhamdulillah kami telah lulus dengan baik dari SMK YAMASI. Sebagian dari kami memilih untuk melanjutkan study di Universitas dan sebagian lagi memilih untuk berkerja. Ada yang melanjutkan studynya ke Universitas Hasanuddin jurusan Kedokteran, Universitas Islam Makassar jurusan Farmasi, dan Universitas Negeri Makassar jurusan PGSD serta yang lainnya memilih untuk bekerja di Klinik Gigi Ukhuwah dan Apotik Alfa Medika.
Perjuangan kami dalam menuntut ilmu syar’i tidaklah sampai disitu, karena setelah murabbiyah kami pindah ke daerah kami kembali dibimbing oleh akhwat yang tidak asing lagi dipandangan-pandangan kami. Beliau adalah salah satu akhwat alumni Forum Ukhuwah Muslimah Makassar (FUM Makassar) yang selama ini membawahi Rohis-rohis sekolah termasuk sekolah kami dan lagipula sebentar lagi kamipun menjadi bagian dari salah satu amal jami’i yang lebih kompleks dari Rohis kami dulu yakni FUM Makassar.
Semakin tinggi suatu pohon, maka semakin banyak angin yang menerpanya...
Begitupun dengan liqo tarbiyah kami, karena kesibukan 2 orang akhwat dari kami sehingga merekapun jarang datang tarbiyah dan kepengurusan di FUM juga ikut berantakan meskipun begitu tidak dinafikkan kalau kami bertiga pun seperti itu. Entah atas pertimbangan apa, murabbiyah kami merekomendasikan hanya kami bertiga yang ikut ujian/ ikhtibar untuk naik ke tingkat Takwiniyah.
Setelah ikut ikhtibar dan alhamdulillah lulus kemudian kami pun ikut daurah selama 4 hari. Daurah kali ini cukup menyulitkan dan menguras air mata untuk saya pribadi karena harus bolos kerja dan terancam untuk dikeluarkan, tapi dengan penguatan dari murabbiyah saya, saudariku fillah serta akhwat-akhwat bagian kaderisasi LM DPD WI akhirnya saya bisa melewati daurah ini dengan sukses. Seusai daurah akhirnya kami bertiga ditempatkan pada liqo Hafidzhat 13 dan dibimbing oleh seorang ummahat.
Hari berganti pekan, pekan berganti bulan...
Saya pun memilih pilihan yang begitu sulit, untuk kuliah di Universitas Indonesia Timur jurusan farmasi sambil tetap bekerja untuk bisa membayar uang kuliah...
Allah kembali menguji kami, saudarikufillah.. koordinatorkufillah di FUM Makassar.. Ada apa dengannya ? Mengapa sekarang engkau jarang berkumpul dengan kami lagi dalam majelis-majelis tarbiyah dan musyawarah kepengurusan ? tahukah engkau ukhtyfillah, kami merindukanmu !!!
Tanpa kabar yang pasti dan berita yang simpangsiur serta perhatian kami yang sedikit untukmu. Engkau semakin samar dengan pasti, mundur dengan teratur.
MAAF...’AFWAN...
Hanya kata itu yang bisa ku lontarkan sekarang untukmu karena diri dan jiwa ini juga mulai lelah untuk melangkah... Urusan duniawi yang menggiurkan, akademik yang menyita perhatian lebih dan rasa bosan lelah yang memuncak... Akhirnya saya dan dirimu pun menghilang...
Sekarang hanya tertinggal 1 akhwat yang dengan sabar tetap menatap kedepan... kami pun minta maaf padamu ukhtyfillah... bukan maksud kami meninggalkanmu sendirian dan kami yakin engkau tidak sendiri... karena Allah akan selalu bersama hambaNya yang membutuhkan...
Ucapan Syukran wa Jazakumullahu Khayr yang hanya bisa ku katakan padamu karena dengan kesabaranmu dan rasa ukhuwah yang erat, engkau selalu mengingatkanku walaupun hanya lewat pesan singkat yang entah mengapa lambat laun engkaupun mulai meninggalkanku...
Sekarang ku terpuruk, semakin berkubang dengan kemaksiatan. Syirik Mahabbah pada thagut dari Korea itu semakin membuatku jauh dari-Mu... Alunan dzikir dan Kalam-Mu yang dahulu selalu terngiang dan terputar sekarang tergantikan dengan alunan memabukkan yang kemuar dari mulut-mulut hina mereka. Gambar-gambar yang dahulu selalu terpampang dan ku baca untuk membuatku selalu mengingat-Mu kini tergantikan dengan gambar-gambar orang-orang yang menyembah selain-Mu. Untuk beberapa saat, aku menikmati keadaan itu. Tapi, hatiku...
Hatiku mengatakan bukan ini yang ku inginkan, ini salah... maka ku coba untuk menengok kembali shaf pejuang yang sempat ku tinggalkan, aku malu untuk kembali. Akankah mereka menerimaku kembali ?
AKU TIDAK MAU TERGANTIKAN
AKU TIDAK MAU MENJADI BATA YANG MENGHILANG
AKU INGIN MENGAMBIL PERAN DALAM KEJAYAAN ISLAM

Sebenarnya yang paling memalukan adalah...

Aku malu ada di bumi-Mu ya Rabb...
Aku sempat membuat-Mu tergantikan dihatiku...
Masih maukah Engkau menerimaku ya Rabb...
Ampunilah hamba !!...
Tolong hamba ya Rabb...

Saudariku tolong aku... Jangan lepaskan tanganku...
ALLAHU AKBAR...
Beberapa hari kemudian, ada sebuah pesan singkat yang masuk ke handphoneku... yang isinya menyatakan saya termasuk salah satu panitia Temu Remaja Sekolah (TERAS) 2013...
Ada perasaan senang, sedih dan bangga bercampur aduk. Ternyata Allah masih mempercayai saya untuk mengambil peran dalam da’wah Ilallah ini. Ternyata mereka masih mengingat dan menginginkan saya. Terima kasih yaa Allah... Engkau masih mengingat hamba, padahal hamba pernah sempat melupakan-Mu dan bermaksiat menentang-Mu...
Sejak saat itu, dengan semangat dan tekad akhirnya saya kembali mencari liqo tarbiyah yang bisa memberi saya makanan yang selama rehat ini kosong diisi oleh kemaksiatan. Cukup rumit untuk mencari, tapi berkat pertolongan Allah yang tidak pernah meninggalkan hambaNya akhirnya saya mendapatkannya. Qanithat 1. Itulah nama liqo baruku... Dibawah bimbingan Ummahat sebagai murabbiyahku yang tidak kalah “keren” dari murabbiyahku yang sebelumnya... Allah telah menakdirkan saya untuk menuntut ilmu disini dan saya pun berharap semoga saya diistiqamahkan. Aamiin...
Alhamdulillah,,, saya juga kembali mencoba menjadi salah satu batu bata untuk membangun kejayaan Islam yang telah pasti...

Special dedicated :
Semua murabbiyahku dari awal sampai hari ini, Akhwat yang tetap menggenggam erat tanganku disaat ku terpuruk (‘Aisyah, Istiqamah, Uswah dan Tsabita Faqihah Al-Khansa), Akhwat yang telah membantuku mendapatkan liqo tarbiyah dan semua orang yang tetap mendukungku hingga saat ini.semoga bermanfaat...

Tidak ada komentar:

”"